 |
Para eksekutif Apel mengklaim, perusahaan itu telah memperbaiki
pabrik-pabriknya dalam beberapa tahun terakhir dan menerbitkan kode
etik tentang tenaga kerja dan keamanan bagi pemasok. Namun masalah
masih ada, kata kelompok advokasi pekerja. |
BEIJING —
Kerja lembur
berlebihan tanpa hari libur dalam seminggu, tinggal berjejal dalam
asrama yang penuh sesak, serta berdiri terlalu lama sehingga kaki
bengkak dan nyaris tidak bisa berjalan setelah kerja
shift selama
24 jam. Itulah kehidupan sejumlah buruh yang mengaku bahwa mereka
berkerja di pusat-pusat pabrik Apple di China. Perusahaan-perusahaan
pemasok Apple itu juga diduga membuang limbah berbahaya secara
serampangan dan punya rekor yang tidak bagus.
Hampir 140 pekerja
cedera di sebuah perusahaan pemasok di China dua tahun lalu karena
menggunakan bahan kimia beracun untuk membersihkan layar iPhone,
sementara dua ledakan tahun lalu menewaskan empat orang dan melukai
lebih dari 75 orang lainnya.
Raksasa teknologi dari California
itu diduga telah diberi tahu tentang kondisi berbahaya di pabrik-pabrik
di Chengdu, China barat daya, itu sebelum ledakan di pabrik-pabrik
tersebut terjadi. Demikian dilaporkan harian
New York Times, beberapa hari lalu.
"Jika
Apple telah diperingatkan dan tidak bertindak, itu tercela," kata ahli
keselamatan kerja di Massachusetts Institute of Technology, Nicholas
Ashford, kepada
New York Times. "Namun, apa yang secara moral
menjijikkan di satu negara, di tempat lain hal itu diterima sebagai
praktik bisnis, dan perusahaan-perusahaan mengambil keuntungan dari
situ," tambah mantan penasihat pada Departemen Tenaga Kerja AS tersebut.
Sejumlah
spanduk di pabrik di Chengdu memberi peringatan kepada 120.000 staf
yang ada. "Kerja keras dalam pekerjaan yang ada saat ini atau bekerja
keras untuk mencari pekerjaan besok." Di tempat itu, para pekerja yang
datang terlambat sering harus menulis semacam surat pengakuan dosa.
Laporan
harian itu muncul segera setelah Apple mengumumkan keuntungan yang
melonjak senilai 13 miliar dollar AS dalam penjualan sebesar 46 miliar
pada kuartal terakhir. Namun, perusahaan itu masih ingin
pabrik-pabriknya di luar negeri menghasilkan lebih banyak lagi.
Para
eksekutif Apple mengklaim, perusahaan itu telah memperbaiki
pabrik-pabriknya dalam beberapa tahun terakhir dan menerbitkan kode
etik tentang tenaga kerja dan keamanan bagi pemasok. Namun, menurut
kelompok advokasi pekerja, masalah masih ada.
Menurut laporan
perusahaan itu, lebih setengah dari pemasok yang diaudit Apple telah
melanggar setidaknya satu bagian dari kode etik itu—hal tersebut
terjadi setiap tahun sejak 2007—dan bahkan dalam sejumlah kasus
melanggar hukum.
Seorang karyawan Foxconn, mitra Apple, menurut
New York Times, melompat
atau jatuh dari sebuah blok apartemen setelah kehilangan sebuah
prototipe iPhone tahun 2009; dan 18 pekerja lainnya tampaknya mencoba
untuk bunuh diri dalam dua tahun. Jaring bunuh diri telah dipasang
untuk mencegah para pekerja melompat hingga tewas dan Foxconn mulai
menyediakan perawatan kesehatan mental yang lebih baik bagi para
stafnya.
Li Mingqi bekerja untuk pabrik mitra Apple, Foxconn
Technology, sampai musim semi lalu. Ia ikut mengelola pabrik di Chengdu
yang mengalami ledakan. Dia sekarang menggugat Foxconn atas pemecatan
terhadap dirinya. "Apple tidak peduli tentang apa pun selain
meningkatkan kualitas produk dan menurunkan biaya produksi," kata Li
kepada
New York Times. "Kesejahteraan pekerja tidak ada kaitannya dengan kepentingan mereka."
Ledakan
fatal di Chengdu bersumber dari debu aluminium yang terbentuk tiga
minggu setelah iPad keluar. Meskipun ada penyelidikan dari pihak Apple,
tujuh bulan setelah itu terjadi ledakan berikutnya, walau tidak fatal,
di Shanghai.
Seorang mantan eksekutif Apple mengklaim,
perusahaan itu telah mengetahui penyimpangan di bidang tenaga kerja di
sejumlah pabrik selama empat tahun, "dan mereka terus melanjutkan
(kondisi itu) karena sistem bekerja untuk kami".
Para pemasok
hanya diberi margin keuntungan sangat kecil untuk apa yang mereka
hasilkan buat Apple, dan para eksekutif di Cupertino selalu meminta
rincian biaya, jumlah pekerja, dan besaran gaji.
Pendiri Apple,
Steve Jobs, yang meninggal pada Oktober lalu, mengatakan dua tahun lalu
bahwa Apple merupakan pemimpin dunia dalam "memahami kondisi-kondisi
para pekerja dalam rantai pasokan kami". Dia mengatakan, banyak pabrik
punya restoran, bioskop, rumah sakit, dan kolam renang. Para staf
mengatakan, mereka menghargai fasilitas-fasilitas itu, tetapi kondisi
kerja masih dipandang sebagai sesuatu yang tidak berbelas kasih.
Foxconn mengatakan, sebagaimana dikutip
New York Times,
kondisi kerja "baik-baik saja kecuali keras". Hanya satu orang dari 20
pekerja di lini perakitan yang harus berdiri untuk melakukan pekerjaan
mereka, dan perusahaan itu memiliki "catatan keamanan yang sangat baik".
Namun,
Mail on Sunday
mengunjungi sebuah pabrik Foxconn yang membuat iPod di Shenzhen, China,
tahun 2006, dan laporan harian itu yang menunjukkan adanya jam kerja
yang panjang, akomodasi yang penuh sesak, dan hukuman mengejutkan para
eksekutif Apple. "Kami berusaha sangat keras untuk membuat perbaikan,"
kata seorang mantan eksekutif Apple kepada
New York Times. "Tapi kebanyakan orang akan sangat terganggu jika mereka lihat di mana iPhone mereka dibuat."
Source : Kompas