HyeSoosSong

Tampilkan postingan dengan label Penyakit Saraf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Saraf. Tampilkan semua postingan
27 Desember 2011





Zinc (seng) adalah mineral penting yang terdapat pada hampir setiap sel. Riset terbaru menunjukkan seng memainkan peran kunci dalam meningkatakan memori seseorang. Tetapi harus diingat pula, asupan zinc yang berlebih justru dapat memicu serangan epilepsi.

Temuan ini dipublikasikan dalam Journal Neuron. Peneliti berkesimpulan, seng berperan penting dalam membentuk komunikasi antara neuron-neuron di bagian otak besar (hippocampus), yang merupakan pusat memori dan pembelajaran.

"Kami menemukan bahwa seng penting untuk mengontrol efisiensi antara dua populasi sel saraf di hippocampus, kata peneliti utama Dr James McNamara, dari Duke University Medical Center, North Carolina, AS.

Penelitian ini berdasarkan hasil uji coba pada tikus, dimana para ilmuwan menggunakan bahan kimia pengikat seng. Tanpa adanya mineral, komunikasi antara neuron pada otak tikus mengalami kerusakan. Meski begitu, McNamara mengakui masih sedikit temuan yang menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi zinc dengan peningkatan memori.

Disamping itu, McNamara juga memperingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati khususnya dalam mengonsumsi suplemen yang mengandung zinc. "Diperlukan kehati-hatian dalam mengonsumsi zinc karena selain penting untuk memori, asupan zinc yang berlebih juga dapat mengembangkan serangan epilepsi,"katanya.

Zinc dapat ditemukan di berbagai macam makanan seperti biji-bijian, kacang-kacangan, beberapa makanan laut tertentu, padi-padian dan gandum, sereal dan produk susu. Namun, kandungan zinc paling banyak dapat  ditemukan pada tiram.



Sumber : dailymail.co.uk
 
Via : Kompas


Artikel ini dipersembahkan oleh :
Read More....


JAKARTA- Kasus epilepsi berprevalensi 8,2 tiap 1.000 penduduk dan angka insidensi mencapai 50 per 100.000 penduduk. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 220 juta, diperkirakan jumlah pasien epilepsi mencapai 1,8 juta.

"Namun, data pastinya tidak ada. Di Yayasan Epilepsi Indonesia hanya 200 anggota," ucap Ketua Yayasan Epilepsi Indonesia, dr Irawati Hawari SpS, Kamis (15/12/11) di Jakarta.

Yayasan Epilepsi Indonesia mengadakan pertemuan sesama penderita epilepsi dengan dokter dan pemerhatinya setiap tiga bulan sekali. Namun, dalam setiap pertemuan hanya diikuti 50 orang saja. Ini karena anggotanya sebagaian besar adalah kelompok masyarakat tidak mampu yang terkendala biaya transpor. Padahal, dalam pertemuan itu pasien bisa mendapatkan/membeli obat-obatan epilepsi yang meski murah, sulit didapatkan di apotek-apotek biasa.

Epilepsi atau ayan tidak hanya berupa reaksi tubuh kelojotan atau kejang-kejang disertai keluar air liur. Penyakit epilepsi juga bisa bermanifestasi dalam bentuk bengong. Orang yang bengong namun tidak sadar meski telah ditepuk atau dipanggil namanya, menunjukkan gejala epilepsi.

Hal ini bisa menurunkan prestasi belajar pada anak atau konsentrasi kerja bagi pekerja. Sayangnya, hingga kini belum diketahui pasti berapa jumlah penderita epilepsi maupun sebarannya di Indonesia. Yayasan Epilepsi Indonesia berupaya menjaring data itu dengan membuat survei yang bisa diakses di http://www.ina-epsy.org. Namun sayangnya, sejak beberapa waktu diluncurkan, peserta survei masih puluhan orang.
Ia mengatakan, survei ini akan sangat membantu dalam memberi masukan kepada pemerintah atau pun menjadi bahan dalam pemberian pertolongan/perawatan bagi pasien.

Via : Kompas

Artikel ini dipersembahkan oleh :
Read More....

Dokter Irawati Hawari SpS, Ketua Umum Yayasan Epilepsi Indonesia


JAKARTA- Meski zaman telah melaju begitu cepat, hingga kini masih saja ada anggapan bahwa penyakit epilepsi disebabkan kerasukan roh jahat. Saatnya hal ini diluruskan karena secara medis penyakit yang awam disebut ayan ini disebabkan gangguan saraf pada otak
.
"Saat ini masyarakat penyandang epilepsi bahkan sebagian kalangan medis belum memahami epilepsi. Oleh karena itu, edukasi terhadap penderita dan keluarga menjadi sangat penting, juga keterlibatan dari disiplin ilmu lain seperti psikiater, psikolog maupun pekerja sosial," ucap dr Lyna Soertidewi SpS MEpid, Ketua Umum Yayasan Epilepsi Indonesia, Kamis (15/12/2011) di Jakarta dalam Seminar Media "Mari Hapus Stigma Negatif Epilepsi".

Dalam seminar itu disebutkan, selain dianggap sebagai penyakit kutukan atau guna-guna, epilepsi seringkali disalahpersepsikan sebagai penyakit akibat kerasukan roh. Kesalahan persepsi lain, epilepsi juga dinilai hanya terjadi pada anak-anak, menular melalui air liur, tidak boleh kena air atau api.

Kasus epilepsi cukup sering dijumpai. Rata-rata prevalensi epilepsi aktif 8,2 penderita tiap 1.000 penduduk, sedangkan angka insidensi mencapai 50 per 100.000 penduduk. Jika jumlah penduduk Indonesia sekitar 220 juta jiwa, diperkirakan jumlah pasien epilepsi yang membutuhkan pengobatan sekitar 1,8 juta.
Potensi mengidap epilepsi dapat terjadi pada masa kehamilan. Gangguan pada ibu hamil seperti infeksi, demam tinggi, malnutrisi berpengaruh pada kerentanan bayi terhadap kejang.

Selain itu proses persalinan yang sulit, kurang/telat bulan dapat menyebabkan kekurangan zat asam/oksigen, atau gangguan otak Janin seperti infeksi atau radang selaput otak, cedera benturan fisik, tumor, atau kelainan pembuluh darah pada otak dapat menyebabkan Janin berpotensi mengidap epilepsi.

Source : kompas


Artikel ini dipersembahkan oleh :
Read More....


Gangguan yang dialami ibu pada masa kehamilan serta proses persalinan yang sulit bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak dan timbulnya epilepsi. Karena itu kejadian epilepsi pada anak-anak lebih tinggi. Namun dengan kepatuhan minum obat dan pola hidup yang sehat epilepsi bisa disembuhkan.

Jenis epilepsi pada bayi dan anak sangat beragam. Menurut dr.Hardiono Pusponegoro, Sp.A, dari divisi saraf anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sebagian besar kasus epilepsi tidak diketahui penyebabnya.  Namun beberapa diantaranya disebabkan karena gangguan otak seperti kelainan bawaan, trauma otak, infeksi, hingga kekurangan oksigen saat persalinan.

Seorang anak bisa disebut menderita epilepsi jika ia mengalami kejang spontan dua kali atau lebih tanpa sebab yang jelas.

"Kejang ini disebabkan oleh aliran listrik berlebihan di otak yang muncul sebagai kejang," paparnya dalam acara media edukasi bertajuk Kenali dan Pahami Epilepsi, Hapus Stigma Negatif di Jakarta (15/12).

Ia menjelaskan, pada dasarnya epilepsi tidak menular dan tidak mengganggu kecerdasan anak. "Bila anak kejang lebih dari 15 menit memang bisa merusak otaknya. Namun biasanya kejang hanya berlangsung tak lebih dari tiga menit," kata ahli tumbuh kembang ini.

Pengobatan epilepsi menurut Hardiono sebaiknya mempertimbangkan aspek efek sampingnya. "Jangan hanya mencari obat yang paling murah, tapi perhatikan efek sampingnya karena ada yang bisa mengganggu konsentrasi dan menyebabkan alergi," katanya.

Pengobatan monoterapi atau memakai satu jenis obat, menurut dia lebih efektif dibanding beberapa jenis obat. "Makin sedikit obatnya, makin bagus hasilnya. Sekitar 70 persen tidak kejang sama sekali," imbuhnya.

Pasien epilepsi memang harus mengonsumsi obat dalam jangka panjang karena itu diperlukan kepatuhan agar terapinya berhasil.  "Setelah dua tahun tidak kejang lagi, kita akan evaluasi. Obat juga tidak boleh dihentikan seketika namun perlahan-lahan," paparnya.

Penghentian obat secara mendadak, menurut Hardiono bisa berakibat fatal. "Meski sudah tidak kejang lagi tapi belum tentu aktivitas listrik di otaknya sudah normal. Jika obat dihentikan anak bisa kejang-kejang hebat. Ini justru berbahaya," katanya.

Source : Kompas

Artikel ini dipersembahkan oleh :

Read More....

Ilustrasi
     Ayan atau epilepsi adalah penyakit saraf menahun yang menimbulkan serangan mendadak berulang-ulang tak beralasan. Belum diketahui secara pasti apa penyebab dari penyakit ini. Namun riset terbaru mengatakan,kelahiran prematur dapat meningkatkan risiko epilepsi dikemudian hari.

"Kami menemukan hubungan yang kuat antara kelahiran prematur dan risiko epilepsi. Diperlukan pencegahan bayi lahir prematur untuk mengurangi beban epilepsi di kemudian hari," kata Casey Crump, MD, PhD, dari Stanford University, California yang risetnya dipublikasikan dalam jurnal American Academy of Neurology.
Penelitian melibatkan 630.090 orang dewasa di Swedia usia 25-37 tahun dan diamati selama empat tahun. Sebanyak, 27.953 responden diketahui lahir prematur, dan 922 atau 0,15 persen dari mereka dirawat di rumah sakit karena penyakit epilepsi.

Studi menemukan bahwa orang dewasa yang lahir prematur (23-31 minggu usia kehamilan) lima kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena epilepsi ketimbang orang dewasa yang lahir normal (37-42 minggu usia kehamilan).

Sementara itu, pada orang dewasa yang lahir pada minggu 32-34 kehamilan hampir dua kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena epilepsi dan mereka yang lahir antara 35-36 minggu usia kehamilan, satu atau setengah kali lebih mungkin untuk dirawat di rumah sakit karena epilepsi dibandingkan orang dewasa dengan usia kelahiran normal.

"Gangguan lain juga lebih umum pada orang yang lahir prematur, termasuk cerebral palsy (kelumpuhan otak besar) dan penyakit lain dari sistem saraf pusat," kata Crump.

"Ada kemungkinan hubungan antara kelahiran prematur dan epilepsi yang disebabkan oleh berkurangnya aliran oksigen ke otak bayi selama masa kehamilan yang mengarah pada kelahiran prematur atau perkembangan otak yang abnormal akibat lahir prematur," tandasnya.


Sumber : EurekAlert



Via : Kompas


Artikel ini dipersembahkan oleh :

Read More....

Ilustrasi

Apa yang terbayang ketika mendengar penyakit epilepsi atau istilah awamnya ayan? Sebagian besar akan menjawab tubuh kejang tersentak-sentak dan keluar air liur. Padahal, tidak semua epilepsi bermanifestasi dalam bentuk kejang.

Manifestasi epilepsi ternyata ada yang berbentuk ekspresi bengong, bibir bergerak-gerak tanpa disadari, serta kesulitan bicara sesaat. Bahkan, emosi tinggi pada wanita haid bisa jadi gejala epilepsi catamenial.

Lyna Soertidewi dari Departemen Ilmu Penyakit Saraf, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menjelaskan, epilepsi adalah gangguan pada kelistrikan otak yang menyebabkan bangkitan atau kejang lebih dari satu kali dalam enam bulan.

Kelistrikan pada otak dan sistem saraf makhluk hidup, termasuk manusia, berperan dalam mengantarkan pesan atau perintah bagi tubuh. Saat neurotransmiter (saraf pengantar) terganggu, aliran listrik menjadi berloncatan. Respons tubuh adalah kejang-kejang.

Gangguan ini bisa mengenai siapa saja dan kapan saja. Tidak hanya bawaan lahir, epilepsi juga bisa terjadi akibat benturan, stroke, dan infeksi pada otak.

Trauma pada kepala membuat otak berusaha memperbaiki. Namun, kadang-kadang yang terjadi koneksi saraf menjadi abnormal dan kerja sel-sel saraf terganggu.

Organ otak yang memiliki sekitar 100 miliar sel-sel saraf berfungsi sebagai pemimpin, memberikan perintah terkait segala aktivitas tubuh, seperti aktivitas ingatan, gerakan, indera, dan suasana hati. Jika otak terganggu, hal-hal itu pasti terpengaruh. Bahkan, bangkitan berupa kejang-kejang selama 15-30 menit bisa berakibat fatal karena tubuh bekerja ekstra keras dengan kondisi minim oksigen.

Selain epilepsi yang bermanifestasi dalam bentuk kejang-kejang (tonik klonik), ada bentuk manifestasi lain, seperti bengong (beberapa detik), atonik (reaksi terjatuh karena otot melemas), dan mioklonik (kontraksi otot tiba-tiba). Bengong epilepsi dengan bengong biasa bisa dibedakan dengan memanggil penderita.

”Kalau ditepuk atau dipanggil tidak merespons, berarti bukan bengong biasa. Bisa jadi itu childhood absence (bengong epilepsi pada anak),” kata pengajar pada Departemen Ilmu Penyakit Anak Universitas Indonesia, Hardiono D Pusponegoro.

Jika ragu, bisa menguji secara sederhana, yaitu minta orang yang kita curigai meniup selembar kertas sebanyak 30 kali. Penderita epilepsi pasti langsung bengong tanpa sadar selama beberapa waktu.

”Potensi untuk mengidap epilepsi dapat terjadi sejak masa kehamilan. Gangguan yang dialami ibu pada masa kehamilan, seperti infeksi, demam tinggi, dan kekurangan nutrisi berpengaruh pada kerentanan bayi terhadap kejang. Selain itu, proses persalinan yang sulit, kurang, atau telat bulan menyebabkan otak janin kekurangan oksigen,” kata Hardiono.

Ada pula bentuk epilepsi parsial. Penderita merasa mual atau tidak enak di ulu hati, atau merasa ketakutan/cemas. Epilepsi jenis ini relatif tak terlalu tampak, tetapi jika tidak dirawat bisa berkembang menjadi epilepsi umum.

Untuk menegakkan diagnosis epilepsi, dilakukan tes neurologi dan tingkah laku, tes darah, serta mengecek kondisi otak dengan CT-scan, MRI, atau elektroensefalogram (EEG). Melalui EEG, bisa diketahui konsistensi kelistrikan tubuh.

Pusat Data dan Informasi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia menyebutkan, pada 2006, penderita epilepsi berjumlah 1 juta hingga 1,5 juta orang. Dari jumlah itu, 70 persen dapat disembuhkan dengan pengobatan teratur.

Mengendalikan bangkitan

Pemberian obat bertujuan mengendalikan bangkitan, serangan, atau korsleting listrik di otak. Terapi obat ini bisa berlangsung bertahun-tahun. Jika tak lagi muncul bangkitan, dengan pengawasan dokter, selama dua atau tiga tahun kemudian pemberian obat bisa dikurangi. Untuk menghentikan pemberian obat, dokter membutuhkan data dan dasar yang kuat bahwa kelistrikan otak telah normal. Hal ini bisa didapatkan melalui tes EEG.

Prosedur berlapis ini dilakukan mengingat pengurangan obat atau penghentian obat yang tidak tepat bisa memperburuk kondisi pasien. ”Pemberian obat tidak boleh berhenti mendadak, harus pelan-pelan dikurangi agar tidak berakibat serius,” kata Hardiono.

Perempuan penderita epilepsi yang sedang hamil sering kali menghentikan obat epilepsi. Karena asupan obat berhenti mendadak, ibu bisa kejang-kejang dan berdampak fatal bagi nyawa dan bayinya.

Meski penyakit ini telah dikenal lama dan merupakan penyakit akibat gangguan sistem saraf otak, masih banyak stigma negatif dan diskriminasi kepada penderitanya. Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Yayasan Epilepsi Indonesia Irawati Hawari.

Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, masih ada stigma negatif mengenai penyakit itu sehingga status penyakit sering disembunyikan. Padahal, dampaknya malah bisa memperburuk kondisi penderita.
Jika ditemukan lebih dini dan ditangani lebih cepat, potensi penderita epilepsi untuk sembuh lebih besar.



Sumber :Kompas Cetak
Via : kompas

Artikel ini dipersembahkan oleh :

Read More....

Copyright © 2012 HyeSoosSong | Another Theme | Designed by Johanes DJ