HyeSoosSong

Tampilkan postingan dengan label Kompas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kompas. Tampilkan semua postingan
1 Desember 2011


PURWODADI - Menikmati keindahan bunga anggrek, itu hal yang mudah. Tapi bagaimana bila mendeskripsikan karakteristiknya dan menyatakannya sebagai spesies baru? Untuk hal itu, ilmuwan pun kadang butuh waktu ratusan tahun, tak jarang ketidaktepatan klasifikasi harus dilalui.

Untuk mendeskripsikan Vanda frankieana sebagai anggrek spesies baru contohnya, ilmuwan butuh 140 tahun! Adalah peneliti Kebun Raya Purwodadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Destario Metusala dan pakar anggrek asal Singapura, Peter O'Byrne yang berhasil mendeskripsikannya.

Sebelum dideskripsikan sebagai spesies baru, Vanda Frankieana punya kisah panjang. Kisah bermula saat Johannes Elias Teijsmann dan Simon Binnendijk, peneliti Kebun Raya Bogor asal Belanda memunculkan identitas bunga itu untuk pertama kalinya pada tahun 1866.

Teijsmann yang menjadi kepala Kebun Raya Bogor ketiga (1830-1869) kala itu sedang aktif mengembangkan katalog tumbuhan dari nusantara. Vanda frankieana ialah salah satu bunga anggrek yang terjaring, namun kala itu dinamai Vanda crassiloba.

Hingga beberapa tahun setelah dinyatakan dalam katalog, belum ada publikasi spesies itu. Publikasi kedua baru muncul 49 tahun kemudian. Salah satu peneliti Kebun Raya Bogor, J.J Smith, pada tahun 1905 menyatakan bahwa Vanda crassiloba adalah spesies anggrek dari Ambon.

Perkembangan seputar Vanda crassiloba alias Vanda frankieana kemudian seolah berada di tangan J.J Smith. Dialah yang membuat pernyataan lewat publikasi, meragukannya lagi dalam publikasi berikutnya, hingga akhirnya malah berakhir menjadi misteri.

Pada tahun 1928, 23 setelah berselang, J.J Smith punya analisa bahwa Vanda crassiloba sebenarnya adalah spesies yang sama dengan Vanda saxatilis. Dengan demikian, dua spesies tersebut direduksi menjadi satu spesies saja.

Dalam reduksi, J.J Smith tiodak menyertakan spesimen yang diperoleh dari Ambon terkait publikasi tahun 1905. Ini menunjukkan bahwa J.J Smith belum memiliki gambaran jelas pada tahun 1905 sehingga salah mengklasifikasikan sebagai Vanda crassiloba.

Namun, pada publikasi tahun 1938, J.J Smith memublikasikan ilustrasi Vanda crassiloba bersebelahan dengan Vanda saxatilis. Ini mengindikasikan bahwa dia masih ragu dengan keputusan untuk mereduksi dan yakin bahwa Vanda crassiloba adalah spesies berbeda.

Setelah analisis, J.J Smith mengungkapkan bahwa Vanda crassiloba adalah "nomen nudum" atau nama yang tidak valid sebab tidak pernah disertai dengan deskripsi dan spesimen tipe. Setelah analisis ini, Vanda crassiloba menjadi misteri. J.J Smith tidak pernah menyatakannya sebagai spesies baru.

Destario dan O'Byrne adalah dua ilmuwan yang akhirnya berhasil menyatakannya sebagai spesies baru. Keduanya kemudian menamai ulang spesies yang dimaksud menjadi Vanda frankieana, sebagai penghormatan pada Frankie Handoyo, pegiat konservasi dan budidaya anggrek.

"Anggrek Vanda frankieana dapat dibedakan dengan kerabat dekatnya Vanda saxatilis antara lain karena dagu bunganya berbentuk memanjang, dengan ukuran 35 persen lebih panjang dari cuping sampingnya (sidelobes) dan dinding bagian dalam dagu bunganya memiliki rambut pendek halus yang cukup lebat," kata Destario.

"Sedangkan pada V. saxatilis, dagu bunganya memiliki panjang yang sama atau sedikit lebih pendek dari cuping sampingnya dan dinding bagian dalamnya polos tidak berambut," imbuh Destario dalam rilis yang diterima Kompas.com Senin (28/11/2011).

Destario juga menyatakan bahwa Vanda frankieana adalah anggrek yang secara alami tumbuh di Kalimantan. Anggrek ini memiliki 1-5 kuntum bunga yang besar, kaku dan mengkilat dengan lebar sekitar 4 cm. Tanaman anggrek ini bisa mencapai tinggi 50 cm.


Klasifikasi Vanda frankieana yang memakan waktu lama ini hanyalah salah satu contoh rumitnya penelitian taksonomi. Contoh lain ialah klasifikasi cacing acorn yang memakan waktu hampir setengah abad. Semula dikira hidup di laut dangkal, ternyata spesies itu hidup di laut dalam.

Deskripsi Vanda frankieana sebagai spesies baru akan dipublikasikan di Malesian Orchid Journal Volume 9 tahun 2012 nanti. Malesian Orchid Journal adalah jurnal yang khusus memuat penelitian taksonomi, ekologi dan konservasi kawasan Malesia, meliputi Filipina, Malaysia, Indonesia, Timot Timur dan Papua Nugini.
Destario menggarisbawahi bahwa walaupun penelitian taksonomi memakan waktu lama, namun tetap harus dilakukan. Tentang riset eksploratif menginventarisasi biodiversitas, kata Destario, Indonesia masih jauh kalah dibanding negara tetangga.

Source : Kompas

Read More....


SASKATCHEWAN - Palaentolog berhasil mengidentifikasi spesies baru dinosaurus, dinamai Thescelosaurus assiniboiensis (THES'-kel-oh-SAWR'-us ah-SIN'-ni-boy-EN'-sis). Spesies itu diidentifikasi berdasarkan potongan tulang berusia 66 juta tahun yang ditemukan di distrik Assiniboia, Saskatchewan, Kanada. Nama spesies dinosaurus itu sendiri diambil dari nama tempat penemuannya.

Spesimen dari spesies tersebut telah ditemukan di lembah Sungai Frenchman pada tahun 1968. Namun, identifikasinya baru bisa dilakukan baru-baru ini.

Caleb Brown, salah satu tim peneliti, mengatakan bahwa dinosaurus baru ini adalah herbivora, alias vegetarian. Namun, dibanding herbovora lain, dinosaurus ini punya ukuran lebih kecil, cuma sebesar rusa.

Saat ini, seperti dipublikasikan Foxnews, Senin (28/11/2011), potongan tulang dinosaurus itu dipamerkan di Pusat Penemuan T-Rex di Easten dan Royal Saskatchewan Museum di Regina. Penemuan spesies dinosaurus ini dipublikasikan di oological Journal of the Linnean Society yang terbit bulan Desember nanti.

Sumber : FOXNews
Via       : Kompas
Read More....

SN2011dh, supernova termuda yang tertangkap teleskop. 

BONN - Astronom berhasil menangkap citra supernova termuda dan mengabadikannya dalam sebuah foto. Supernova itu ditangkap 14 hari setelah ledakan bintang di Galaxia del Remoli (M51) Juni lalu.

Universitas Valencia dan Institut Astrofisika Andalusia adalah pihak yang ikut serta dalam penelitian itu. Hasil penelitian dipublikasikan di jurnal Astronomy and Astrophysics.

Untuk menangkap citra supernova itu, astronom menggunakan teleskop NASA di Spanyol, Meksiko, Jerman, Swiss dan Finlandia. Citra dari masing-masing teleskop diproses di dengan super komputer di Belanda.

Teknik yang dipakai untuk menangkap citra supernova yang bernama SN2011dh ini disebut interferometry. Teknik itu bisa menghasilkan citra ratusan kali lebih detail dari yang diambil teleksop Hubble.

Hasil penelitian ini berhasil memecahkan rekor. "Ini adalah gambar beresolusi tinggi pertama dari ledakan supernova," kata Ivan Marti dari Institut Max Planck di bidang Radio Astronomy di Bonn, Jerman.

"Dari gambar ini, kita bisa mengetahui peningkatan kecepatan dari gelombang kejut yang menciptakan ledakan," tambah Marti seperti Science Daily, Kamis (24/11/2011).

Penemuan ini adalah hasil kerjasama astronom Eropa, Afrika dan China dalam Very Long Baseline Interferometry (VLBI). Supernova adalah salah satu fenomena paling spektakuler di semesta yang selalu menarik perhatian.

Sumber : SCIENCEDAILY
Via        : Kompas.com
Read More....

30 November 2011

Citra virus HIV 3 Dimensi 

TEXAS, KOMPAS.com — Zhilei Chen, asisten profesor di A&M University di Texas yang berkolaborasi dengan Scripps Research Institute, menghasilkan penelitian besar dengan menemukan senyawa PD 404,182 yang bisa membunuh virus HIV, penyebab AIDS.

Penemuannya dipublikasikan di jurnal American Society of Microbiology bulan ini. "Ini adalah senyawa kecil bersifat virusidal, artinya punya kemampuan membunuh virus, dalam hal ini adalah HIV. Pada dasarnya, virus ini bekerja dengan membuka virus," kata Chen seperti dikutip Medical Xpress, Kamis (24/11/2011).

"Kami menemukan ketika HIV kontak dengan senyawa ini, virus itu rusak dan kehilangan material genetik. Dalam hal ini, virus 'terlarut' dan RNA-nya (material genetik HIV) terpapar. Karena RNA tak stabil, sekali terpapar akan hilang dengan cepat dan virus tak bisa menginfeksi," tambah Chen.

Hal yang lebih mengejutkan, senyawa ini bekerja langsung menyerang bagian dalam virus, bukan protein pada bagian dinding kapsulnya. Ini kabar bagus sebab dengan demikian, virus sulit untuk berevolusi mengembangkan resistensi.

Penemuan bahwa senyawa ini bisa membunuh virus HIV sebenarnya tak sengaja. Mulanya, Chen hendak menguji keefektifan PD 404,182 untuk melawan virus Hepatitis C. Tapi setelah mencobanya pada HIV, ternyata senyawa itu bekerja lebih efektif.

Dengan penemuan ini, Chen yakin bahwa senyawa tersebut bisa dikembangkan untuk upaya preventif, misalnya dalam bentuk gel vagina yang berguna mencegah infeksi HIV lewat hubungan seksual. Chen membuktikan bahwa ketika kontak dengan cairan vagina, senyawa ini akan tetap efektif.

Karena menyerang bagian dalam kapsul virus, bukan membrannya, Chen juga yakin senyawa ini aman dipakai manusia.

Mayoritas senyawa virusidal bekerja pada membran luar kapsul virus yang karakteristiknya hampir serupa dengan membran sel manusia sehingga bisa merusak.
 
Via : Kompas
Read More....

Copyright © 2012 HyeSoosSong | Another Theme | Designed by Johanes DJ